Api Abadi Mrapen Mati, Terungkap Sudah Mengecil Sejak Akhir Tahun

Api Abadi Mrapen Mati, Terungkap Sudah Mengecil Sejak Akhir Tahun

Annas Rofiqi, Penata Layanan Operasional Api Abadi Mrapen, mengungkapkan bahwa tanda-tanda melemahnya nyala api sudah terlihat sejak akhir tahun lalu. "Sebelumnya kita sudah laporan tanggal 28 Desember 2025 itu apinya sudah mengecil," kata Annas saat ditemui di lokasi Api Abadi Mrapen pada Minggu (1/2/2026), menjelaskan kronologi kejadian. Puncak dari penurunan intensitas api tersebut terjadi tepat di awal tahun baru. "Kemarin 1 Januari tepatnya itu jam 7 pagi saya cek ke sini, kondisinya sudah padam. Padahal malamnya jam 11 itu masih hidup," sambung Annas, menggambarkan momen ketika ia mendapati api yang selama ini tak pernah padam itu kini benar-benar mati. Rasa terkejut dan sedih tak dapat disembunyikan Annas, mengingat betapa pentingnya api ini bagi banyak pihak.

Api Abadi Mrapen bukan sekadar api biasa. Ia adalah manifestasi dari keluarnya gas alam (metana) dari dalam bumi yang secara alami tersulut dan terus menyala tanpa henti selama berabad-abad. Fenomena geologis langka ini telah menjadikan Mrapen sebagai salah satu situs warisan alam paling berharga di Indonesia. Sepanjang sejarahnya, Api Abadi Mrapen telah memegang peranan penting dalam berbagai acara besar, terutama sebagai sumber obor untuk perhelatan olahraga nasional maupun internasional. Obor Asian Games IV pada tahun 1962, Pesta Olahraga Nasional (PON) sepanjang sejarahnya, hingga obor peringatan Hari Jadi Kota Semarang pernah disulut dari Api Abadi Mrapen. Nilai historis ini menambah bobot keprihatinan atas padamnya api tersebut.

Selain peran historisnya dalam olahraga, Api Abadi Mrapen juga memiliki makna spiritual yang mendalam bagi masyarakat Hindu di Jawa Tengah dan sekitarnya. Lokasi ini seringkali menjadi tempat ritual dan upacara keagamaan, diyakini sebagai tempat suci yang memancarkan energi positif. Bagi masyarakat umum, khususnya wisatawan, Api Abadi Mrapen adalah destinasi unik yang menawarkan keindahan alam sekaligus keajaiban geologi. Keberadaannya telah menopang perekonomian lokal melalui kunjungan wisatawan, penjualan suvenir, dan jasa pemandu wisata. Padamnya api ini tentu akan berdampak langsung pada sektor pariwisata dan kehidupan ekonomi masyarakat sekitar.

Mengenai penyebab padamnya api, Annas Rofiqi menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pemeriksaan awal terhadap dua pipa saluran yang mengalirkan gas ke titik Api Abadi Mrapen. Dari hasil pengamatan tersebut, Annas menduga kuat bahwa saluran gas tersebut tertutup lumpur. "Setelah kita cek ternyata, ini asumsi ya, asumsi dari kita itu dari pipa gas saluran yang dari dalam tanah itu tertutup lumpur," jelasnya. Dugaan ini muncul karena meskipun api sudah padam, kedua saluran pipa gas tersebut masih mengeluarkan bau gas yang khas, serupa dengan bau korek api gas. Namun, karena adanya sumbatan lumpur, tekanan gas yang seharusnya mendorong gas hingga ke permukaan dan menjaga nyala api menjadi tidak kuat. "Masih mengandung bau gas seperti korek api, tapi sayangnya tertutup lumpur. Karena itu jadinya gas yang seharusnya terdorong dari dalam tanah itu enggak bisa," terang Annas, memberikan gambaran teknis mengapa api tidak lagi menyala.

Penyumbatan lumpur di saluran gas bawah tanah bisa disebabkan oleh berbagai faktor geologis, seperti pergerakan tanah, aktivitas air tanah yang membawa sedimen, atau bahkan dampak dari curah hujan tinggi yang mengikis lapisan tanah dan membawa material lumpur masuk ke celah-celah retakan. Mengingat Api Abadi Mrapen adalah fenomena alam yang melibatkan struktur geologi bawah tanah, perubahan kecil sekalipun dapat memiliki dampak signifikan.

Menanggapi situasi ini, pihak pengelola Api Abadi Mrapen tidak tinggal diam. Annas menyebutkan bahwa pihaknya telah segera melaporkan kejadian ini kepada pihak terkait untuk penanganan lebih lanjut. "Kita sudah laporan ke Dispora sebagai pengelola untuk bagaimana langkah ke depannya karena nantinya kan dari Dispora mengarahkan ke ESDM," ungkap Annas. Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Dispora) Kabupaten Grobogan sebagai pengelola situs ini akan berkoordinasi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah. Keterlibatan ESDM sangat krusial mengingat keahlian mereka dalam bidang geologi, gas alam, dan keselamatan pertambangan.

Rencananya, pihak Dinas ESDM akan melakukan pemeriksaan menyeluruh pada minggu depan. Pemeriksaan ini diharapkan dapat mengkonfirmasi penyebab pasti padamnya api dan menentukan langkah-langkah restorasi yang paling tepat. "Kita juga di sini enggak berani kalau misalkan mau menyedot tanpa ada riset dulu dari ESDM," pungkas Annas, menekankan pentingnya pendekatan yang hati-hati dan berdasarkan penelitian ilmiah. Upaya penyedotan lumpur atau intervensi lainnya tanpa analisis yang mendalam dapat berisiko memperburuk kondisi atau bahkan menimbulkan bahaya. Oleh karena itu, riset awal dari ESDM akan menjadi panduan utama sebelum tindakan restorasi apapun dilakukan.

Investigasi oleh ESDM kemungkinan akan meliputi berbagai tahapan, mulai dari survei geofisika untuk memetakan struktur bawah tanah, analisis komposisi gas yang masih keluar, hingga potensi pengeboran eksplorasi untuk memastikan jalur gas dan kondisi sumbatan lumpur. Tim ahli akan mengevaluasi apakah sumber gas masih melimpah dan apakah penyumbatan dapat diatasi secara aman dan efektif. Harapan besar kini tertumpu pada hasil investigasi dan tindakan restorasi yang akan diambil oleh pihak berwenang. Masyarakat Grobogan, para pegiat budaya, dan wisatawan berharap agar Api Abadi Mrapen dapat segera menyala kembali, mengembalikan ikon kebanggaan Grobogan yang telah lama menjadi simbol keabadian dan keajaiban alam.

Tagged with:
Terkini
You might also like
Pelat Putih dan Mobil Dinas: Pejabat Temanggung Kena Sanksi Berat Setelah Viral di Media Sosial

Pelat Putih dan Mobil Dinas: Pejabat Temanggung Kena Sanksi Berat Setelah Viral di Media Sosial

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Guncang Timur Tengah Setelah Serangan Udara AS-Israel di Teheran

Kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Guncang Timur Tengah Setelah Serangan Udara AS-Israel di Teheran

Febri Hariyadi Berlabuh ke Persis Solo: Misi Penyelamatan dari Degradasi dan Strategi Pengembangan Pemain Persib

Febri Hariyadi Berlabuh ke Persis Solo: Misi Penyelamatan dari Degradasi dan Strategi Pengembangan Pemain Persib

Kobaran Api Lalap Kandang Ayam di Ngemplak Boyolali: 10 Ribu Anak Ayam Hangus, Kerugian Capai Rp 800 Juta

Kobaran Api Lalap Kandang Ayam di Ngemplak Boyolali: 10 Ribu Anak Ayam Hangus, Kerugian Capai Rp 800 Juta

Kecelakaan Maut di Tanjakan Jlegong Semarang: Truk Gagal Menanjak, Satu Sopir Tewas Terjepit di Jurang Sedalam 5 Meter

Kecelakaan Maut di Tanjakan Jlegong Semarang: Truk Gagal Menanjak, Satu Sopir Tewas Terjepit di Jurang Sedalam 5 Meter

Menguak Makna Mendalam di Balik Pamali: Kearifan Lokal Masyarakat Jawa yang Abadi

Menguak Makna Mendalam di Balik Pamali: Kearifan Lokal Masyarakat Jawa yang Abadi