Boyolali – Sebuah insiden mengerikan nyaris merenggut nyawa seorang petani di Banyudono, Boyolali, Minggu pagi (1/2/2026). Tri Joko Santoso (40), warga Desa Kragilan, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, terperosok ke dalam sumur tua sedalam 3,5 meter saat sedang menjalankan rutinitas hariannya mencari rumput untuk pakan ternak. Beruntung, berkat kesigapan warga dan respons cepat dari tim gabungan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, pria paruh baya itu berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat, meski mengalami cedera di tangan kanannya.
Peristiwa yang menggemparkan warga sekitar ini terjadi sekitar pukul 07.30 WIB di sebuah kebun kosong yang terletak di pinggir Jalan Semarang-Solo, tepatnya di wilayah Dukuh Dewan, Desa Ketaoin, Kecamatan Banyudono. Kebun yang luas dan kurang terawat itu memang sering menjadi lokasi bagi para petani lokal untuk mencari pakan ternak karena rumputnya yang tumbuh subur dan liar. Namun, di balik kerimbunan vegetasi, tersembunyi sebuah bahaya mematikan yang hampir tak terlihat.
Menurut kesaksian Alif Isnu, salah seorang warga yang pertama kali mengetahui kejadian tersebut, ia awalnya sedang dalam perjalanan menuju bengkel ketika telinganya menangkap suara teriakan minta tolong yang samar-samar. "Saya tadi kan ke bengkel, terus ada orang teriak-teriak. Ada yang tahu, terus dilihat ternyata ada orang yang masuk ke dalam sumur tua," tutur Alif kepada para wartawan di lokasi kejadian. Ia menambahkan, betapa terkejutnya ia mengetahui bahwa korban adalah seorang "ngarit" atau pencari rumput, yang tampaknya sedang apes di pagi yang tenang itu.
Tri Joko, yang pagi itu berangkat dari rumahnya dengan tekad mencari nafkah, diduga kuat tidak menyadari keberadaan sumur tua tersebut. Sumur yang sudah tidak digunakan lagi itu ditutupi dengan lembaran asbes seadanya dan tertutup rapat oleh rimbunnya rumput liar yang tumbuh tinggi di sekitarnya. Kondisi ini menciptakan jebakan tak terlihat, di mana batas antara tanah yang kokoh dan lubang maut menjadi kabur. Diduga, saat Tri Joko melangkahkan kakinya, asbes penutup sumur yang sudah rapuh itu tidak mampu menahan beban tubuhnya. Sebuah bunyi ‘krak’ atau ‘pyar’ mungkin sempat terdengar, sebelum tanah tiba-tiba ambles dan korban terperosok jatuh ke dalam kegelapan sumur.
"Sumurnya sudah ditutupi asbes. Kemungkinan nggak kelihatan tertutup rumput, jatuh," jelas Alif, mencoba menggambarkan situasi yang dialami korban. Jatuh ke dalam sumur yang gelap, dingin, dan sempit tentu saja menimbulkan kepanikan luar biasa. Teriakan minta tolong Tri Joko yang bergema dari dalam sumur menjadi satu-satunya harapan. Beruntung, suaranya berhasil didengar oleh warga sekitar yang kemudian berdatangan untuk memberikan pertolongan pertama.
Melihat kondisi korban yang terjebak di dasar sumur, beberapa warga sempat berusaha memberikan bantuan dengan menggunakan tali biasa. Mereka berupaya agar korban tidak terperosok lebih dalam atau terpeleset ke posisi yang lebih berbahaya. Namun, keterbatasan peralatan dan risiko yang tinggi membuat evakuasi mandiri oleh warga menjadi sangat sulit dan berbahaya. Menyadari bahwa penanganan profesional diperlukan, kejadian itu segera dilaporkan ke BPBD Boyolali. Laporan diterima sekitar pukul 08.30 WIB, satu jam setelah insiden terjadi, menunjukkan betapa cepatnya respon komunitas dalam menghadapi situasi darurat.
Tak buang waktu, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Boyolali segera memobilisasi anggotanya. Gembong Suroto, salah seorang anggota TRC BPBD Boyolali yang bertugas di lokasi, menjelaskan bahwa timnya langsung bergerak cepat setelah menerima laporan. "Kami mendapat laporan kejadian itu sekitar pukul 08.30 WIB. Kemudian TRC BPBD dengan membawa peralatan evakuasi, langsung mendatangi lokasi kejadian," kata Gembong di lokasi. Tim datang dengan membawa peralatan lengkap untuk penyelamatan vertikal (vertical rescue), termasuk tripod khusus, tali-temali, carabiner, dan alat pelindung diri. Kecepatan respons ini sangat krusial, mengingat setiap menit yang terbuang bisa berarti perbedaan antara hidup dan mati bagi korban yang terjebak.
Setibanya di lokasi, tim gabungan yang terdiri dari TRC BPBD, tim SAR, relawan lokal, dan warga segera memulai operasi penyelamatan. Koordinasi yang baik antara semua elemen sangat penting untuk memastikan keselamatan korban dan para penolong. Langkah pertama adalah memastikan stabilitas area di sekitar sumur, kemudian mendirikan tripod vertical rescue di atas bibir sumur. Tripod ini berfungsi sebagai penopang utama untuk menurunkan dan menarik korban secara aman dan terkontrol.
Dengan profesionalisme dan kehati-hatian, seorang personel terlatih diturunkan ke dalam sumur untuk memeriksa kondisi Tri Joko. Komunikasi terus terjalin dengan korban, menanyakan keadaannya, dan menenangkan dirinya agar tetap tenang selama proses evakuasi. Setelah dipastikan aman dan korban terpasang pada alat pengaman, proses penarikan pun dimulai. Perlahan tapi pasti, Tri Joko ditarik ke atas menggunakan sistem katrol dan tali yang telah terpasang pada tripod. Ketegangan menyelimuti lokasi kejadian. Semua mata tertuju pada bibir sumur, menantikan kemunculan Tri Joko.
Akhirnya, sorak lega terdengar ketika Tri Joko berhasil diangkat keluar dari sumur. Wajahnya terlihat pucat dan sedikit gemetar karena kedinginan dan syok, namun ia sadar dan bisa berkomunikasi. "Korban dalam keadaan selamat dan sadar," ujar Gembong Suroto dengan nada lega. Ia menambahkan, berdasarkan keterangan korban sendiri, Tri Joko memang sedang mencari rumput dan sama sekali tidak mengetahui bahwa di tengah kebun tersebut ada sumur yang ditutup asbes. Tragisnya, asbes tersebut terinjak kakinya dan pecah, menyebabkan ia terjatuh.
Setelah berhasil dievakuasi, tim medis segera memberikan pertolongan pertama kepada Tri Joko. Ia diketahui mengalami luka cedera di tangan kanannya, yang kemungkinan terjadi saat ia berusaha berpegangan atau menahan diri ketika jatuh. Untuk memastikan tidak ada cedera serius lainnya dan mendapatkan penanganan medis yang tepat, korban kemudian dibawa ke rumah sakit terdekat menggunakan mobil ambulans yang telah disiagakan.
Insiden ini menjadi pengingat penting bagi masyarakat akan bahaya sumur-sumur tua atau lubang galian yang tidak terawat dan tidak diberi tanda peringatan yang jelas. Gembong Suroto mengingatkan, "Kedalaman sumur sekitar 3,5 meter, cukup dalam dan berbahaya jika tidak segera ditangani." Ia mengimbau agar pemilik lahan atau masyarakat sekitar lebih proaktif dalam mengidentifikasi dan mengamankan potensi bahaya seperti sumur terbuka atau lubang-lubang lain yang bisa membahayakan. Penutupan yang properti dan permanen, atau setidaknya pemasangan tanda peringatan yang jelas, sangat diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
Kisah Tri Joko Santoso berakhir bahagia berkat sinergi antara kewaspadaan warga dan kesigapan tim penyelamat. Namun, insiden ini sekaligus menjadi cerminan bahwa bahaya bisa mengintai di tempat yang tak terduga, bahkan dalam rutinitas sehari-hari sekalipun. Pentingnya menjaga lingkungan, mengamankan area berbahaya, dan memiliki kesadaran akan potensi risiko adalah pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kejadian di Banyudono ini. Semoga Tri Joko segera pulih sepenuhnya dan dapat kembali beraktivitas, dengan kewaspadaan yang lebih tinggi di kemudian hari.